Showing posts with label Planet. Show all posts
Showing posts with label Planet. Show all posts

Next NASA Mars mission rescheduled for 2011


NASA rescheduled the launch of Mars Science Laboratory for 2011, 2 years later than previously planned. The mission will send a next-generation rover with unprecedented research tools to study the early environmental history of Mars.

A launch date of October 2009 no longer is feasible because of testing and hardware challenges that must be addressed to ensure mission success. The window for a 2009 launch ends in late October. The relative positions of Earth and Mars are favorable for flights to Mars only a few weeks every 2 years. The next launch opportunity after 2009 is in 2011.

"We will not lessen our standards for testing the mission's complex flight systems, so we are choosing the more responsible option of changing the launch date," said Doug McCuistion, director of the Mars Exploration Program at NASA Headquarters in Washington. "Up to this point, efforts have focused on launching next year, both to begin the exciting science and because the delay will increase taxpayers' investment in the mission. However, we've reached the point where we can not condense the schedule further without compromising vital testing."

The Mars Science Laboratory team recently completed an assessment of the progress it has made in the past 3 months. As a result of the team's findings, the launch date was changed.

"Despite exhaustive work in multiple shifts by a dedicated team, the progress in recent weeks has not come fast enough on solving technical challenges and pulling hardware together," said Charles Elachi, director of NASA's Jet Propulsion Laboratory in Pasadena, California. "The right and smart course now for a successful mission is to launch in 2011."

The advanced rover is one of the most technologically challenging interplanetary missions ever designed. It will use new technologies to adjust its flight while descending through the martian atmosphere and to set the rover on the surface by lowering it on a tether from a hovering descent stage. Advanced research instruments make up a science payload 10 times the mass of instruments on NASA's Spirit and Opportunity Mars rovers.

The Mars Science Laboratory is engineered to drive longer distances over rougher terrain than previous rovers. It will employ a new surface propulsion system.

Rigorous testing of components and systems is essential to develop such a complex mission and prepare it for launch. Tests during the middle phases of development resulted in decisions to re-engineer key parts of the spacecraft.

"Costs and schedules are taken very seriously on any science mission," said Ed Weiler, associate administrator for NASA's Science Mission Directorate at NASA Headquarters. "However, when it's all said and done, the passing grade is mission success."

The mission will explore a Mars site where images taken by NASA's orbiting spacecraft indicate there were wet conditions in the past. Four candidate landing sites are under consideration. The rover will check for evidence of whether ancient Mars environments had conditions favorable for supporting microbial life and preserving evidence of that life if it existed there.

2006 SQ372 Perjumpaan Setiap 22500 Tahun



Sebuah planet minor bernama 2006 SQ372 dengan jarak sekitar lebih dari 3 milyar km dari Bumi atau sedikit lebih dekat dari Neptunus, tengah melintasi orbit Neptunus dalam perjalanannya mengitari Matahari. Objek kecil yang menyerupai komet raksasa ini membutuhkan waktu 22500 tahun untuk menyelesaikan perjalanannya mengitari Matahari. Saat ia berada pada jarak terjauhnya dari Matahari saat itu si objek 2006 SQ372 akan berada pada jarak 241 milyar km atau mendekati 1600 kali jarak Bumi - Matahari.

Bidang orbit planet mayor yang ada di Tata Surya memiliki bentuk hampir lingkaran, namun untuk kasus 2006 SQ372 orbitnya berbentuk ellips. Satu-satunya objek yang bisa dibandingkan dengan 2006 SQ372 adalah Sedna (planet katai yang ditemukan tahun 2003). Objek baru ini jauh lebih kecil dari Sedna, dengan diameter hanya sekitar 48-96 km dan bukannya 1000 km. Pada dasarnya oobjek ini adalah sebuah komet, namun ia tak pernah bergerak sampai pada jarak yang cukup dekat dengan Matahari sehingga bisa memiliki ekor terang hasil penguapan gas dan debu.

Tim yang dipimpin Andrew Becker astronom dari Washington University, menemukan komet tersebut saat mengaplikasikan simulasi terhadap data ang sudah diambil untuk mencari ledakan supernova pada jarak milyaran tahun cahaya untuk mengukur pengembangan alam semesta.

Dalam pencarian ini, jika objek yang meledak dapat ditemukan maka objek yang bergerak pun akan dapat dikenali, walaupun untuk itu dipelukan alat yang berbeda. Dan menurut salah satu anggota tim, Lynne Jones dari University of Washington, objek yang cukup dekat dan dapat berubah posisi dalam waktu pendek adalah objek di Tata Surya.

SQ372 pertama kali ditemukan dalam deretan citra yang diambil antara 27 September - 21 Oktober 2006. Saat itu salah satu anggota tim, Andrew Puckett dari University of Alaska Anchorage, kemudian melakukan pencarian dalam survey Supernova musim gugur 2005 untuk mendapatkan deteksi yang lebih awal. Ternyata SQ372 ini sudah ditemukan dalam musim pengamatan 2006 dan 2007.
Dalam simulasi komputer yang dilakukan Nathan Kaib, mahasiswa pasca sarjana University of Washington, tampaknya SQ372 ini memiliki model pembentukan yang sama dengan Pluto yakni di sabuk serpihan es di area sekitar Neptunus dan kemudian terlontar keluar akibat pertemuan gravitasi antara Neptunus dan Uranus. Namun menurut Kaib, diperkirakan SQ372 ini berasal dari bagian dalam awan Oort.

Pada tahun 1950, Jan Oort seorang astronom asal Belanda menyimpulkan kalau sebagian besar komet berasal dari waduk es yang berada jauh. Waduk yang berisi objek-objek seperti asteroid ini sebenarnya terlontar keluar dari Tata Surya akibat tolakan gravitasi planet-planet raksasa. Sebagian besar objek di awan Oort mengorbit Matahari pada jarak beberapa bilyun km, namun gaya gravitasi dari bintang yang berpapasan dengan awan oort dapat mengubah orbit mereka. Akibatnya sebagian akan masuk ke ruang antar bintang dan sebagian lagi justru memiliki orbit yang melintasi Tata Surya dimana mereka bercahaya sebagai komet.

2006 SQ372, pada titik baliknya yang terjauh pun akan 10 kali lebih dekat ke Matahari dibanding objek-objek utama di awan Oort. Secara teori awan Oort telah diprediksikan ada semenjak beberapa tahun lalu, namun tampaknya penemuan Sedna dan SQ372 merupakan 2 objek pertama yang tampaknya berasal dari awan Oort tersebut.

Menurut Kaib, salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk memahami asal muasal Komet namun tujuan yang lebih jauh lagi adalah untuk menelusuri sejarah awal Tata Surya dan menempatkan potongan-potongan informasi tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat Planet terbentuk.


Kerak tipis dan tebal yang dimiliki Mars saat ini adalah warisan tabrakan masa lalu di planet tersebut.

Duerrr … saat tabrakan besar mendera Mars 4 milyar tahun lalu, peristiwa ini membentuk lekukan besar di belahan utara dan menyebabkan planet merah ini tampak miring. Sebagian lekukan memang tersembunyi dari penglihatan para ilmuwan karena lebarnya rentang gunung api Tharsis yang melintas di area tersebut. Hal yang bisa diketahui para ilmuwan adalah ada perbedaan sekitar 30 km pada ketebalan kerak planet di dataran rendah utara dan dataran tinggi selatan.

Dikotomi kerak atau pembagian kerak menjadi dua kelompok diperkirakan disebabkan oleh tabrakan besar, atau bisa jadi berasal dari pergeseran selubung Mars. Satu set perhitungan dibuat oleh Jeffrey Andrews-Hanna dan timnya dari Massachusetts Institute of Technology, yang menunjukkan bukti kuat adanya tabrakan besar yang membentuk kawah empat kali lebih besar daripada yang pernah terlihat di Tata Surya.

Dalam modelnya itu, Jeffrey memindahkan Tharsis dari Mars, untuk mencari tahu mengapa ada transisi antara kerak tebal dan tipis. Dan saat Tharsis dihilangkan, dia pun melihat keberadaan kawah yang sangat besar dengan panjang 10.600 km dan lebar 8.500 km. Dataran rendah Mars merupakan proyeksi elips yang sangat besar, dan proses yang mengakibatkan terjadinya penekanan itu adalah tabrakan yang sangat besar.

Kolam lainnya yang tercipta akibat adanya tabrakan besar juga berbentuk elips dan memiliki bentuk yang mirip dengan dataran rendah utara Mars.

Tebal Tipisnya Kerak
Meteorit pastinya telah membuat batuan dari dataran rendah utara Mars terlontar saat terjadi tabrakan, sehingga membentuk kawah yang dikenal sebagai kawah Borealis. Sebagian dari batuan yang terlontar itu tampak mengumpul di sisi lain planet, sehingga membuat keraknya makin tebal. Ide adanya dikotomi kerak yang disebabkan oleh tabrakan besar diajukan tahun 1980-an oleh Don Wilhelms dari US Geological Survey dan Steven Squyres, direktur proyek Mars Rover. Ide itu sendiri saat dilontarkan lebih bersifat intuitif dan bukan berasal dari sebuah hasil perhitungan. Ternyata, setelah 25 tahun, intuisi itu bisa dibuktikan kebenarannya lewat perhitungan.

Kalkulasi yang lebih presisi dan lebih baik akan terus dikembangkan dan dikombinasikan dengan hasil pengamatan. Bagaimanapun, perlu diingat, alasan yang disampaikan tersebut sangat memungkinkan dan merupakan sebuah langkah maju yang signifikan.

Sumber : Nature

Waduk Air Tersembunyi Di Enceladus


Satelit Saturnus, Enceladus tampaknya memang menyembunyikan waduk air jauh di bawah permukaannya. Data yang diambil dengan Ultraviolet Imaging Spectrograph (UVIS) milik Cassini menunjukan keberadaan alur partikel es dan uap air yang dimuntahkan keluar dari bulan tersebut. Data inilah yang kemudian diteliti oleh tim gabungan Jet Propulsion Lab di California, University of Colorado dan University of Central Florida di Orlando.

Hasilnya, tim yang dipimpin Professor Joshua Colwell menemukan sumber jalur muntahan tersebut berasal dari sebuah sumber air yang ada jauh di bawah permukaan. Tampaknya air disana mengalir keluar dari permukaan melalui sebuah lubang yang menjadi penghubung dengen kecepatan supersonik.

Saat ini hanya ada 3 tempat di Tata Surya yang diperkirakan memiliki air dalam betuk cair di dekat permukaan. Bumi, Satelit Jupiter - Europa dan sekarang Enceladus, Satelit Saturnus. Ketiga tempat ini memang menarik perhatian untuk diteliti lebih lanjut karena air merupakan materi dasar bagi kehidupan, dan memberi implikasi penting bagi penelitian di Tata Surya. Jika ternyata pemanasan berkala yang diperkirakan menyebabkan terjadinya geyser tersebut ditemukan dan merupakan fenomena umum dalam sistem keplanetan maka ini akan jadi sangat menarik. Karena bisa jadi kehidupan adalah hal yang umum dalam sistem keplanetan.

Hasil analisa tim ini juga membuktikan kebenaran teori tentang sumber jalur geyser memang berasal dari sumber air di bawah permukaan Enceladus. Sebuah konsep yang berlaku umum. Hal yang sama juga ditemukan di Bumi. Air dalam bentuk cair di Bumi berada jauh di bawah permukaan es Danau Vostok di Antartika.

Untuk kasus Enceladus, diyakini butiran es berkondensasi dari uap air yang lepas dari sumber air dan mengalir melalui retakan di kerak es sebelum lepas dari permukaan menuju angkasa.

Hipotesa lain yang diberikan oleh teori yang ada tampaknya tidak bisa digunakan dalam kasus Enceladus. Teori memprediksikan jalur gas dan debu yang teramati tersebut disebabkan oleh penguapan butiran es yang keluar ke angkasa saat gaya pasang surut Saturnus menyebabkan lubang yang ada di kutub selatan terbuka. Namun hasil yang ditemukan oleh tim peneliti menunjukan uap air yang keluar dari lubang tersebut pada tahun 2007 lebih banyak dari yang diprediksikan secara teori untuk tahun yang sama.

Hasil pengamatan memang menunjukan ketidakcocokan dengan waktu terbuka dan tertutupnya lubang atau jalur keluar tersebut sebagai akibat pasang surut. Selain itu hasil analisa menunjukan perilaku geyser sesuai dengan model matematika yang menjadikan lubang atau jalur keluar tersebut sebagai pipa penghubung uap air dari waduk air ke permukaan. Pengamatan pada cahaya terang dari bintang yang terhalang oleh geyser juga menunjukan kalau uap air tersebut membentuk semburan tipis. Semburan uap air tipis dengan kecepatan tinggi seperti itu hanya bisa terjadi pada temperatur yang mendekati titik leles es.

Saat ini belum ada kesimpulan akhir namun di masa depan Enceladus akan jadi target utama penelitian Cassni selama perpanjangan misinya pada bulan September 2010 dengan nama Misi Equinox.

Sumber : EurekAlert

Ketika Sebuah Planet Tampak Secara Visual di Fomalhaut

Jika kita memandangi langit selatan, terdapatlah sebuah bintang bermagnitudo satu yang sangat indah, dikenal dengan nama ‘mulut ikan (selatan)’, yang berasal dari bahasa Arab; menggambarkan seekor ikan yang terbaring telentang meminum air yang dituangkan dari bejana Aquarius. Ikan yang terbaring itu dikenal sebagai rasi Piscis Austrinus, dan bintang cerlang pada mulut ikan tersebut dikenal sebagai Fomalhaut. Fomalhaut dikenal sebagai salah satu bintang yang paling cerlang pada belahan langit selatan.

Semenjak jaman kuno, Fomalhaut telah berperanan penting bagi para pengamat di seluruh dunia. Salah satu nama yang dikenal adalah ‘Bintang Penyendiri di Musim Gugur’, karena merupakan satu-satunya bintang dengan magnitudo satu di langit musim gugur pada lintang langit utara menengah. Bagi bangsa Persia, Fomalhaut adalah salah satu ‘bintang raja’, yaitu ‘Penjaga Utara’.


Bintang Fomalhaut, si mulut ikan. Kredit : solstation
Tidak hanya bagi nenek moyang kita, Fomalhaut masih berperanan bagi pengamatan astronomi, sampai saat ini. Memang ada apa dengan Fomalhaut di masa sekarang? Dengan jarak yang mencapai 7,7 parsek, (25 tahun cahaya, 1 tahun cahaya = 9.461×1012 km) jauhnya dari Tata Surya kita, tentulah masih cuup dekat untuk bisa diamati dan menjadi tempat uji bagi berbagai aktivitas astronomi yang didukung oleh peralatan astronomi modern.

Pada 13 November 2008 yang baru lalu, satu tim astronom mempergunakan Hubble Space Telescope mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan citra tampak dari suatu planet raksasa yang mengorbit Fomalhaut!. Planet yang baru ditemukan tersebut diberi nama Fomalhaut b.

Apakah yang ditemukan tersebut memang sebuah planet? Bagaimana mereka bisa yakin bahwa itu memang planet? Seperti apakah planet tersebut? Nah disinilah pekerjaan astronom yang sebenarnya dilakukan.

Fomalhaut adalah sebuah bintang deret utama, A3V, diperkirakan berukuran massa 2,3 kali ukuran massa Matahari, 1,7 kali diameter Matahari, 16 kali luminositas Matahari, lebih besar dan lebih panas dari Matahari, dengan umur sekitar 200-300 juta tahun, masih ada satu milyar tahun sebelum berubah menjadi raksasa merah atau variabel Cepheid dan akhirnya meniupkan semua lapisan luarnya dan meninggalkan inti dalam sebagai katai putih. Memang Fomalhaut itu tidaklah serupa dengan Matahari, tetapi, lebih baik kita kembali dulu pada tahun 1983, ketika sebuah satelit NASA, IRAS (Infra Red Astronomy Satellite) mengamati langit.

Ketika mengamati, IRAS mendapatkan adanya radiasi merah-infra berlebih dari Fomalhaut, jauh lebih banyak dari yang diperkirakan dari bulir-bulir debu antar bintang yang seharusnya didapatkan dari bintang tipe awal yang muda. Radiasi tersebut berasal dari piringan materi besar berdiameter mencapai 370 AU (lebih dari lima kali ukuran Tata Surya kita) yang menyelubungi bintang tersebut. Piringan tersebut diperkirakan berasal dari partikel debu es yang mengalami pemanasan oleh bintang. Secara sederhana, jika Tata Surya kita pada keadaan awalnya diperkirakan seperti pada gambaran tersebut, maka ada kemungkinan ada planet di Fomalhaut, maka pencarian planet pun di mulai di Fomalhaut.

Pada tahun 2005, peralatan coronograph pada Kamera Resolusi Tinggi di Sistem Survei Kamera Canggih Hubble memproduksi cittra-tampak yang jelas tentang adanya sabuk debu besar menyelubungi Fomalhaut. Jelas terlihat bahwa struktur Fomalhaut merupakan cincin debu sistem proto-planet yang mencapai 21,5 milyar mil sepanjang tepi dalam yang jelas.


Serpihan cincin pembentuk planet Fomahault. Kredit : Hubble
Menurut astronom yang mempergunakan Hubble, Paul Kalas (dari Universitas California, Berkeley), beserta tim-nya, cincin tersebut merupakan akibat modifikasi gravitasi dari suatu planet yang terletak antara bintang dan tepi dalam cincin tersebut. Maka proses kerja keras yang panjang untuk membuktikan keberadaan suatu planet tersebut dimulai.

Dari pengamatan Coronagraphic mempergunakan HST (Hubble Space Telescope) pada tahun 2004 menghasilkan citra optis pertama dari sistem sabuk debu Fomalhaut dan mendeteksi sejumlah sumber redup di dekat Fomalhaut. Apakah memang sumber redup tersebut merupakan anggota dari Fomalhaut, maka harus dilakukan pengamatan gerak diri, mempergunakan teleskop Keck II 10 m di tahun 2005, dan HST di 2006. Dan pada bulan Mei 2008, analisa data menyeluruh menunjukkan bahwa ada satu obyek nyata ber-asosiasi dengan Fomalhaut dan menunjukkan adanya gerak orbit. Obyek redup tersebut berada pada bagian redup dari sabuk dan teramati karena cahaya bintang yang terhamburkan oleh bulir-bulir debu (bukan oleh cahayanya sendiri). Dengan demikian, benda tersebut berada pada bidang langit dengan urutan (Bumi–Fomalhaut–Fomalhaut b membentuk sudut 126°), pada ~51° melewati konjungsi dan mengorbit berlawanan arah jarum jam.

Tidak hanya berdasar pengamatan, model teori juga diterapkan untuk memodelkan interaksi planet- sabuk. Untuk memodelkan massa, para astronom membatasi masa obyek dengan memodelkan pengaruh gravitasi pada sabuk debu, sesuai dengan perilaku sabuk berdasarkan citra cahaya yang tersebar dari pengamatan HST. Model mengasumsikan hanya obyek tersebutlah yang menentukan bagaimana sabuk tersebut terbentuk sesuai pengamatan. Dari model tersebut mereka mendapatkan bahwa massa obyek itu mencapai 3 kali massa jupiter dan paling kecil seukuran massa Neptunus.

Kerja keras telah dilakukan untuk memastikan bahwa yang tampak terlihat di Fomalhaut tersebut memang itu adalah (sangat dimungkinkan) sebuah planet yang mengorbit Fomalhaut, dan diberi nama Fomalhaut b, sebagai kandidat exoplanet yang tampak visual untuk pertama kalinya. Terletak pada bidang sabuk, berjarak 119 AU dari bintang, dan 18 AU di dalam sabuk debu. Pengamatan HST selama selang 1,73 tahun memperlihatkan gerak berlawanan arah jarum jam. Dan bermassa mencapai tiga kali massa Jupiter, karena jika lebih, gravitasinya akan mempengaruhi sistem sabuk. Akan tetapi, Fomalhaut b masih satu milyar kali lebih redup daripada bintangnya.

Sebelum adanya penemuan planet ini, astronom mencari keberadaan planet berdasarkan adanya ‘gangguan’ kecil gravitasi di sekitar bintang, atau menunggu adanya ‘kedipan’ kecil ketika ada planet melintas di depan bintang. Dan metode tersebut telah berhasil mengidentifikasikan adanya planet-planet di luar Matahari yang telah mencapai 300 buah teridentifikasi, tetapi astronom masih terus mencoba mendapatkan adanya gambar tampak keberadaan planet di suatu bintang yang lain. Sampai kemudian adanya penemuan di Fomalhaut ini.

Terlepas dari Fomalhaut sebagai bintang akan berumur lebih pendek dibanding Matahari kita, yang berarti kecil kemungkinan akan adanya kehidupan yang maju atau satu dunia yang bisa ditinggali dapat ditemukan, tetapi penemuan ini telah membuka babakan baru pada pencarian planet-planet di luar Matahari. Jika dengan teknologi yang ada sekarang saja bisa mengamati planet yang satu milyar kali lebih redup dari pada bintangnya, maka seiring dengan perkembangan teknologi, bisa memberikan penemuan-penemuan baru, bahkan mungkin planet-planet serupa Bumi di bintang-bintang lain.
Mungkin sejenak kita harus menunggu sampai 2013, ketika NASA akan mengirimkan James Webb Space Telescope untuk membuka mata kita lebih lebar lain tentang rahasia alam semesta yang belum terkuak.